Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Senyum Agu di Ambang Imlek: Kisah Kursi Roda Rusak yang Akhirnya Diganti Dr Lily

MEDAN – Meski sudah berkali-kali diperbaiki, roda dan rangka kursi rodanya mulai reot. Namun, itulah satu-satunya alat yang dimiliki Kim Kie alias Agu (60) untuk tetap bergerak. Sebagai penyandang disabilitas warga Medan Petisah, kursi roda yang sudah “uzur” itu adalah kebutuhan primer.

Nasib Agu berubah Kamis pagi, (5/2/2026), anggota DPRD Medan dari PDI Perjuangan, ketika Dr Dra Lily MBA MH, mengetuk pintu rumahnya di Jalan Airlangga Ujung. Kedatangan sang anggota dewan bukan untuk berkunjung biasa, melainkan mengantarkan harapan baru: sebuah kursi roda baru yang masih kokoh.

BACA  Macan Asia Medan Kolaborasi Dishub Garap Potensi Parkir, Targetkan PAD Meningkat

Aspirasi Warga yang Didengar

“Ini semua berawal dari laporan dan kepedulian kader serta warga di sini. Mereka melihat kondisi Pak Agu yang memprihatinkan,” kata Dr. Lily saat menyerahkan bantuan.

Melihat antrean bantuan dinas sosial yang panjang, Lily tak menunggu. Ia menghubungi Dr. Robert Komaria, seorang donatur yang dikenal “tangan ringan” dalam hal sosial. “Kepedulian tidak bisa ditunda. Kolaborasi dengan donatur seperti Pak Robert adalah solusi cepat untuk keadaan darurat seperti ini,” ujarnya.

BACA  MAI Medan Soroti Ironi Superblok Deli Park, Sold Out Tapi Potensi PAD 200 M Masih Tercecer

Sepatu Roda untuk Ribuan Kehidupan

Bagi Dr. Robert, bantuan untuk Agu adalah unit ke-sekian dari misi sosial yang telah dijalaninya bertahun-tahun. “Tercatat hampir seribu kursi roda telah kami berikan. Angka itu bukan kebanggaan, tapi pengingat bahwa masih banyak yang perlu kita bantu,” tutur Robert dengan rendah hati.

Ia melihat kursi roda bukan sekadar alat, tapi mobilitas dan harga diri. “Dengan alat yang layak, mereka bisa lebih mandiri dan bersemangat,” tambahnya.

Bingkisan dan Harapan di Tahun Baru

Tak lupa, di tengah aura kebersamaan itu, Dr. Lily juga menyerahkan paket bingkisan Imlek. Senyum Agu semakin merekah. Di usianya yang ke-60, Imlek tahun ini terasa lebih ringan dan penuh warna.

BACA  Ribuan Massa Kepung Kantor Wali Kota Medan, Tolak Surat Edaran Dinilai Diskriminatif terhadap Pedagang Daging Babi

“Tahun ini, saya bisa keluar rumah dengan lebih nyaman. Terima kasih,” ucap Agu singkat, penuh makna.

Kisah Agu adalah potret kecil dari pentingnya kepekaan sosial, kolaborasi, dan respons cepat terhadap penderitaan warga, terutama menjelang hari raya seperti Imlek. Sebuah kursi roda, sekali lagi, terbukti bisa menggerakkan bukan hanya tubuh, tetapi juga hati dan harapan. (Red)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *